Salah Fokus Orang Tua saat Menentukan Prioritas Kebutuhan Anak
Iya, salah fokus...
70% dari para orang tua disekeliling saya mengalami fenomena salah fokus ini.
Ketidakmampuan dalam menentukan prioritas kebutuhan anak yang sejatinya adalah skill yang harusnya dimiliki setiap orang tua, sering kali tidak disadari dan dianggap sebagai hal sepele. Kesalahan inilah yang berakibat fatal dan bisa menghambat perkembangan anak.
Contoh paling sering saya jumpai adalah salah prioritas pendidikan.
Para ibu di sekeliling saya adalah wanita karir yang kebanyakan ketika anak-anaknya berada diusia balita harus bangun pagi untuk bekerja dan pulang sore dengan harapan bisa beristirahat tanpa gangguan. Dari pagi hingga sore mereka melewatkan tumbuh kembang si kecil, dan gagal memberikan 'sekolah pertama' bagi anak-anaknya. Begitu pula bapak yang hampir tidak memiliki peran dalam pengasuhan buah hati selain memenuhi kebutuhan jasmani.
Padahal anak kita setiap harimya melalui fase berbeda dalam proses tumbuh dan kembang. Periode emas yang terlewat tidak akan pernah bisa terulang kembali.
Saat anak mulai bersekolah, orang tua lagi-lagi gagal mengidentifikasi potensi sang buah hati sehingga mereka tumbuh dewasa tanpa menyadari kelebihan yang dimilikinya. Inilah yang menjadi kunci sulitnya masa remaja bagi sebagian anak karena proses menemukan 'jati diri' dimulai dari 0 atau bahkan dari titik minus. Salah prioritas disini dalam artian hanya fokus memenuhi kebutuhan saat ini dan melupakan aspek tumbuh kembang anak kedepannya.
Ketika anak mencapai usia remaja, orang tua lagi-lagi gagal mengajarkan bagaimana hidup sebagai orang dewasa. Orang tua melarang anaknya untuk ikut campur dalam permasalahan orang dewasa, yang mana berimbas pada minimnya pengetahuan mereka akan masalah-masalah yang kemungkinan akan dihadapi ketika tumbuh dewasa. Anak kitapun menjadi dewasa muda yang kurang mampu mengidentifikasi masalah serta bagaimana proses mencari solusi hingga mengatasi permasalahan tersebut.
Kegagalan berulang orang tua akhirnya menyebabkan anak kehilangan memori indah masa kecil, kesulitan menemukan kelebihan dan mengembangkan skill serta ketidaksiapan mereka menjadi individu dewasa.
Jadi mulai sekarang, bekali anak kita dengan kebahagiaan, asah potensi mereka agar menjadi skill yang menghasilkan, serta persiapkan mental fisik anak kita agar resilience ketika dihadapkan dengan permasalahan.
Komentar
Posting Komentar